Yuk, curi waktu, duduk bersamaku, dan kita bercerita lagi. Seperti awal dulu kita bertemu, sering bercanda dan menertawakan hal-hal sepele tentang dunia.

Dunia ini semakin sibuk dan kita terbawa di dalamnya, terjerumus mengikuti arus dan emosi yang tanpa aba-aba merisak, masuk dari antara celah hati yang mulai retak karena ego…

Menulis titik pada kalimat yang tidak pernah kamu sangka akan menjadi sebuah akhir bukan sesuatu yang baru, tapi rasanya selalu sama mendebarkannya, dan sama menyedihkannya. Titik itu seolah menjadi penegasan, bahwa inilah akhir sebuah bab.

Kemudian, akhir itu akan menjadi awal lagi — sebuah kalimat pembuka yang akan membawamu menuju akhir lain yang masih samar.

Namun, ini masih buku yang sama. Ceritanya masih bersambung, dengan berbagai macam awal, pertengahan, dan akhir. Belum saatnya buku ini ditutup sama sekali, masih banyak sekali awal yang akan datang.

Kamu hanya perlu menulis lagi; berbekal pena yang lebih tajam, dengan pilihan-pilihan kata yang lebih sederhana, hati yang lebih siap dan pikiran yang lebih dewasa.

Aku hanya perlu menulis lagi.

Jatuh cinta sama penulis itu nggak enak. Kamu akan jadi inspirasi utamanya untuk menulis dan hasil tulisannya akan terus ada di sana. Kamu akan jadi subjeknya. Kamu akan terus hidup di dalamnya, meskipun kamu nggak tau kapan bagianmu dalam perjalanannya akan selesai.

Emang sih, nggak semua hasil tulisan itu…

Kepalaku penuh dan riuh. Banyak sekali suara yang mengisi, walaupun ruang yang kutempati ini sepi dan senyap, sama sekali.

Setiap kali mata terbuka, rasa sesak dan ngilu di dada terus saja ada. Rasanya seperti dihujam ribuan siksaan. Tubuhku berdarah-darah di sana dan di sini, tetapi kulihat sekitarku — kering.

Kupejamkan…

Semua orang pergi untuk mencari, termasuk aku. Pertanyaannya: mencari apa?

Aku terus saja berjalan, meskipun tanpa arah. Mencari, bahkan sampai berlari. Berusaha kuat, meskipun dada terasa sesak. Setiap kedipan terasa berat, sakitnya hingga ke pelupuk mata. Setiap sentuhan terasa dingin, menusuk sampai ke tulang dan menetap di sana.

Aku ingin berhenti.

Mengambil jarak dari segalanya, mengambil sebanyak mungkin waktu, semaunya. Namun, di mana kuasaku untuk melakukan semuanya?

Nyatanya, kemewahan itu hanya milik beberapa yang beruntung saja. Kenyataan memaksaku untuk terus saja berjalan, mencari, meskipun tidak tahu pasti apa yang aku cari.

Banyak tangan yang memegang pundakku, banyak mata yang mencariku sekadar untuk menumpahkan kesahnya padaku, banyak hati gundah yang datang dan mencari jawabannya padaku.

Walaupun aku sendiri tidak tahu kemana arahku, tapi berusaha untuk menjadi akhir dari pencarian setiap orang tidak salah, kan?

terlalu banyak perasaan yang kamu pendam sendiri.

sampai-sampai, untuk menyampaikannya saja kamu tidak bisa. tidak tahu bagaimana caranya, tidak tahu siapa yang akan mendengarnya. kamu begitu yakin bahwa mereka hanya segelintir rasa yang mampir dan tidak akan tinggal. …

Apalah arti sebuah momen jika kita tidak benar-benar ingin mengingatnya nanti? Aku terus saja bertanya-tanya, seberapa pentingnya kenangan tentang hari ini jika 10 tahun lagi aku malah ingin berusaha melupakannya?
Melupakan tentang segala kepahitan hati, perasaan ingin marah yang terus saja meluap, dan adanya keinginan untuk pergi.

Akankah hal itu…

Jika waktu adalah individu

Aku sering berpikir: jika waktu adalah individu, mungkin dia akan jadi satu-satunya individu yang aku benci dengan keyakinan penuh.

Tapi sayangnya, dia kasat mata, dan hal itu semakin membuat apa yang kulakukan sekarang tidak masuk akal dan terdengar konyol. Membencinya.

“Kenapa kamu membenci waktu?”

Karena dia hanya hadir sekedarnya dan…

“Aku melangkah pasti dengan hati yang hancur. Ku kumpulkan kepingannya, dan aku pergi.”

Bertahun-tahun yang lalu, aku duduk di kelas, sendirian, meratapi kesedihanku tentang hal yang sama seperti yang aku rasakan hari ini.

Pergi. Lucu. Apa sih, pergi itu?

Kenyataannya, aku gak pernah pergi.

Aku berusaha meninggalkan segalanya di belakangku, berharap aku sudah berjalan lurus dan meninggalkan segalanya — jauh dan gak tersentuh…

Saya mengigaukan rindu dan memimpikan banyak sekali pertemuan. Menuliskannya dalam kalimat-kalimat panjang ketika saya terbangun; saya benar-benar ingin pertemuan itu menjadi nyata dan tergapai.

Sudah dua bulan sejak terakhir kali saya melihat kamu. Menyentuh kamu. …

Alvina Maria

I write to keep myself sane. Instagram: @alpinut

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store