Menulis titik pada kalimat yang tidak pernah kamu sangka akan menjadi sebuah akhir bukan sesuatu yang baru, tapi rasanya selalu sama mendebarkannya, dan sama menyedihkannya. Titik itu seolah menjadi penegasan, bahwa inilah akhir sebuah bab.

Kemudian, akhir itu akan menjadi awal lagi — sebuah kalimat pembuka yang akan membawamu menuju akhir lain yang masih samar.

Namun, ini masih buku yang sama. Ceritanya masih bersambung, dengan berbagai macam awal, pertengahan, dan akhir. Belum saatnya buku ini ditutup sama sekali, masih banyak sekali awal yang akan datang.

Kamu hanya perlu menulis lagi; berbekal pena yang lebih tajam, dengan pilihan-pilihan kata yang lebih sederhana, hati yang lebih siap dan pikiran yang lebih dewasa.

Aku hanya perlu menulis lagi.


Jatuh cinta sama penulis itu nggak enak. Kamu akan jadi inspirasi utamanya untuk menulis dan hasil tulisannya akan terus ada di sana. Kamu akan jadi subjeknya. Kamu akan terus hidup di dalamnya, meskipun kamu nggak tau kapan bagianmu dalam perjalanannya akan selesai.

Emang sih, nggak semua hasil tulisan itu adalah tentang kamu, dia bisa saja menulis tentang apapun, siapapun, dan nggak melulu tentang cinta — tapi hasil-hasil tulisannya tentang rasa? Pikiran pembaca akan segera tertuju padamu.

Bagus kalo ceritanya tentang bahagia. Kebayang, nggak, kalau dia nulis tentang kekecewaan? Kesedihan?

Tapi…

Jatuh cintalah sama penulis.

Kamu akan tahu seberapa berartinya…


Kepalaku penuh dan riuh. Banyak sekali suara yang mengisi, walaupun ruang yang kutempati ini sepi dan senyap, sama sekali.

Setiap kali mata terbuka, rasa sesak dan ngilu di dada terus saja ada. Rasanya seperti dihujam ribuan siksaan. Tubuhku berdarah-darah di sana dan di sini, tetapi kulihat sekitarku — kering.

Kupejamkan mataku sekuat mungkin, tanganku mencoba meraih sesuatu selain angin. Namun ternyata yang sebenar-benarnya ada adalah tangan ini terdekap tanpa jarak dengan dadaku sendiri, seolah-olah berusaha menekan semuanya kedalam sana, menyimpannya supaya tidak ada sedikitpun tangisan dan pilu yang memekakkan telinga.

Setiap hari.

Setiap hari bisa kurasakan sakit yang sama, sakit…


Semua orang pergi untuk mencari, termasuk aku. Pertanyaannya: mencari apa?

Aku terus saja berjalan, meskipun tanpa arah. Mencari, bahkan sampai berlari. Berusaha kuat, meskipun dada terasa sesak. Setiap kedipan terasa berat, sakitnya hingga ke pelupuk mata. Setiap sentuhan terasa dingin, menusuk sampai ke tulang dan menetap di sana.

Aku ingin berhenti.

Mengambil jarak dari segalanya, mengambil sebanyak mungkin waktu, semaunya. Namun, di mana kuasaku untuk melakukan semuanya?

Nyatanya, kemewahan itu hanya milik beberapa yang beruntung saja. Kenyataan memaksaku untuk terus saja berjalan, mencari, meskipun tidak tahu pasti apa yang aku cari.

Banyak tangan yang memegang pundakku, banyak mata yang mencariku sekadar untuk menumpahkan kesahnya padaku, banyak hati gundah yang datang dan mencari jawabannya padaku.

Walaupun aku sendiri tidak tahu kemana arahku, tapi berusaha untuk menjadi akhir dari pencarian setiap orang tidak salah, kan?


terlalu banyak perasaan yang kamu pendam sendiri.

sampai-sampai, untuk menyampaikannya saja kamu tidak bisa. tidak tahu bagaimana caranya, tidak tahu siapa yang akan mendengarnya. kamu begitu yakin bahwa mereka hanya segelintir rasa yang mampir dan tidak akan tinggal. rasa yang akan pergi begitu saja jika kamu biarkan, dan tidak akan menyakiti siapapun di akhir cerita.

kamu membiarkan rasa itu tertanam begitu lama, tertimbun begitu jauh di dalam sana. …


Apalah arti sebuah momen jika kita tidak benar-benar ingin mengingatnya nanti? Aku terus saja bertanya-tanya, seberapa pentingnya kenangan tentang hari ini jika 10 tahun lagi aku malah ingin berusaha melupakannya?
Melupakan tentang segala kepahitan hati, perasaan ingin marah yang terus saja meluap, dan adanya keinginan untuk pergi.

Akankah hal itu membuatku jadi pribadi yang pembenci dan segalanya menjadi kesalahanku? Atau haruskah aku menepis pikiran tersebut jauh-jauh, meyakinkan diri bahwa aku sudah mencoba untuk menjadi versi terbaik dari diriku yang aku bisa, karena aku tahu seberapa keras hari ini aku mencoba untuk memaafkan dan melepaskan?

Aku selalu benci kenangan buruk, tapi…


Jika waktu adalah individu

Aku sering berpikir: jika waktu adalah individu, mungkin dia akan jadi satu-satunya individu yang aku benci dengan keyakinan penuh.

Tapi sayangnya, dia kasat mata, dan hal itu semakin membuat apa yang kulakukan sekarang tidak masuk akal dan terdengar konyol. Membencinya.

“Kenapa kamu membenci waktu?”

Karena dia hanya hadir sekedarnya dan seadanya. Sengaja membuat segalanya terasa begitu cepat, tidak memberikan ruang untuk beradaptasi. Dia terus saja berjalan tanpa peduli apa yang terjadi, sungguh cuek dan tidak berempati. Benci.

Karena dia membuat segalanya kacau. Meninggalkan penyesalan “kalau saja waktu itu…” di pikiran semua orang (atau hanya aku saja?), …


“Aku melangkah pasti dengan hati yang hancur. Ku kumpulkan kepingannya, dan aku pergi.”

Bertahun-tahun yang lalu, aku duduk di kelas, sendirian, meratapi kesedihanku tentang hal yang sama seperti yang aku rasakan hari ini.

Pergi. Lucu. Apa sih, pergi itu?

Kenyataannya, aku gak pernah pergi.

Aku berusaha meninggalkan segalanya di belakangku, berharap aku sudah berjalan lurus dan meninggalkan segalanya — jauh dan gak tersentuh. Namun ternyata, aku hanya berjalan memutar, menghindari ego dan semua ketakutanku.

Sekarang aku berdiri lagi, tepat di atas luka yang sama, pecahan-pecahan yang sama, dan aku hanya bisa tersenyum sinis membaca ulang tulisanku itu sambil meringis.

“Melangkah pasti”.

Pasti? Ke mana? Semakin ke sini, ketakutanku semakin nyata. Aku tetap berdarah…


Saya mengigaukan rindu dan memimpikan banyak sekali pertemuan. Menuliskannya dalam kalimat-kalimat panjang ketika saya terbangun; saya benar-benar ingin pertemuan itu menjadi nyata dan tergapai.

Sudah dua bulan sejak terakhir kali saya melihat kamu. Menyentuh kamu. Saya sampai harus meyakinkan diri, bahwa kamu memang nyata dan masih nyata — ada dalam hidup saya, masih dengan perasaan yang sama untuk saya.

Kita dipaksa menyesuaikan diri dengan cepat dan tiba-tiba; tanpa aba-aba dan begitu saja. Pertemuan singkat untuk bertukar cerita setiap akhir minggu yang biasanya kita lakukan, kemudian harus ditunda dan digantikan dengan pertemuan virtual yang kita lakukan hampir setiap malam. Bertukar canda…


You’d start to question yourself with what-ifs.

“What if it was just a misunderstanding?
If only I held on longer, even though it pained me — maybe we could still be together and it’d turn out just fine.

What if it was my fault?
Maybe I was being too pushy, too demanding.
Maybe I should’ve been more patient.

What if he was right?
Maybe he was just busy, and I asked too much questions.
Maybe he was right, he just didn’t have the time to reply my texts.

Would there be anyone who could love me like he did?
Maybe he did it because he loves me.
Maybe it’s his love language, and it’s my fault for being unable to understand it.
Maybe I was just stupid.

I shouldn’t have left.

He wouldn’t take me back.”

Alvina Maria

I write to keep myself sane. Instagram: @alpinut

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store