Belajar tentang Cinta yang Asing

Dulu, hati yang kumiliki ini hanya tahu satu cara mencintai, yaitu dengan menangis. Dulu, cerita cintaku selalu berakhir pilu. Berujung sakit hati, kecewa, sesak, dan kehilangan. Dulu, kukira, cinta memang seperti itu. Memberi seutuhnya, seluruhnya, walaupun berujung menyakitkan dan mengecewakan. Bahwa cinta lebih menggarisbawahi rasa sakit hati dari pada bahagianya.

Cinta yang mereka perkenalkan padaku adalah cinta yang main-main. Cinta yang semu dan memanipulasi. Cinta yang mengolok dan menyakitkan hati. Cinta yang menimbulkan luka, bukan tawa bahagia. Cinta yang kukenal inilah yang memperkenalkanku pada dunia tulis-menulis.

Namun, aku malah dipertemukan dengan cinta yang serius dan nyata, yang sabar dan menjanjikan selamanya — satu bentuk cinta yang asing bagiku. Cinta yang belum juga kupahami sepenuhnya bagaimana bisa, belum juga kumengerti seutuhnya bahkan setelah dua tahun berada di dalamnya.

Aku pernah begitu membenci ketidakpahaman ini hingga aku sampai pada titik di mana aku hanya bisa menghabiskan begitu banyak waktu berpikir dan menangis. Mempertanyakan mana yang maya, dan mana yang nyata. Setelah sekian lama duduk dan dekat dengan kesedihan sehingga batasan antara mana bahagia dan mana duka menjadi samar, diperkenalkan secara tiba-tiba pada bentuk cinta yang baru ini membuatku takut. Takut kehilangan, takut terlupakan, takut berharap. Takut nantinya ini akan menjadi luka yang lain lagi, menjadi luka yang paling membekas dalam dan akan tetap basah selamanya.

Kalian mungkin bertanya, kenapa aku setakut itu?

Karena, cinta yang tidak kukenal ini adalah cinta yang mencoba. Mencoba untuk selalu ada, mencoba untuk selalu membuatku bahagia. Hal-hal kecil yang dilakukan oleh cinta ini membuat segalanya begitu membekas, bahkan detail-detailnya masih teringat jelas. Cinta yang ini adalah cinta yang memberikan segala sesuatu yang ia bisa dalam porsi yang secukupnya, cinta yang tidak berlebihan namun tidak berkekurangan — cukup.

Cinta yang asing ini selalu memberi tanpa meminta. Tidak pamrih, tidak mengendalikan, tidak cemburu. Tidak mencari pembenaran, dan selalu mempertimbangkan. Cinta ini mencari dalam absensi, merindu dalam sorai dan tidak menangis. Cinta yang menerima tanpa menuntut apa-apa. Tidak banyak bicara, namun jelas adanya.

Banyak hal tentang cinta yang asing ini, yang tidak bisa aku ceritakan kepada kalian. Inti dari semuanya, cinta ini adalah cinta yang sangat, sangat bertolak belakang dengan apa yang aku yakini selama ini. Dan aku harus jujur, awalnya, menyesuaikan diri dengan bentuk cinta yang semacam ini adalah hal yang sulit, karena aku tidak bisa begitu saja menarik diri dari kedekatanku dengan garis sendu yang kemudian membantuku menulis begitu banyak puisi yang pernah kalian baca.

Kemudian, walaupun sulit, aku mulai belajar sedikit demi sedikit. Membiarkan cinta yang asing itu menggenggam tanganku, menarikku menjauhi garis samar yang membatasi pedih, luka dan sakit hati dengan bahagia dan tawa yang nyata supaya garis itu terlihat lebih jelas. Cinta yang asing ini membantuku merekonstruksi pikiran-pikiran dan cara mencintai yang dulu aku pikir benar adanya, dan menggantinya dengan kalimat-kalimat sederhana yang membuat bahagia.

Aku mengakui, dalam prosesku menerima bentuk cinta yang asing ini, aku sempat ingin menyerah beberapa kali. Aku bukan hanya mencoba untuk melepaskan genggamannya, bahkan aku seringkali mencoba untuk memukulnya mundur dengan begitu keras hingga akupun merasakan sakitnya. Pukulan untuk memintanya mundur ini tidak jarang berupa kalimat-kalimat tajam yang menusuk hati — bukan hanya hatinya saja, hatiku juga.

Namun, cinta ini lebih keras kepala dari yang aku kira. Cinta ini bersikeras dan memilih untuk bersamaku, walaupun aku sering ketakutan dan menarik diri. Cinta ini menunggu dengan sabar, menerima dengan lapang dada bahwa aku memang masih sekaget itu.

Aku memang masih belum bisa seutuhnya memahami bentuk cinta yang asing ini. Caraku mencintai masih sama, dengan menangis. Namun tangisan yang sekarang terasa lebih membahagiakan dan melegakan, dibanding dengan yang dulu kurasa. Aku ingin memahami bentuk cinta yang berbeda ini. Aku ingin hidup dengan dia, yang memperkenalkan bentuk cinta asing yang masih sulit kutelan mentah-mentah ini. Aku ingin berhenti mencintai dengan tangisan, aku ingin mencintai dengan bahagia yang nyata. Berdiri sejauh mungkin dari pilu, mempelajari bahwa walaupun pasti ada luka, namun cinta tak selalu tentang duka.

I write to keep myself sane. Instagram: @alpinut

I write to keep myself sane. Instagram: @alpinut