Aku selalu berpikir bahwa yang kita jalani adalah yang memang dituliskan untuk kita. Layaknya sebuah buku, di mana aku sebagai tokoh utama, akhirnya menemukan kamu — tokoh yang sama pentingnya, di tengah-tengah cerita dan akan terus bersisian menuju akhir yang bahagia.

Di bab-bab jauh sebelum aku melihat, mengenal, jatuh cinta dan kemudian menjalani semuanya sedalam ini bersama kamu, aku pernah patah hati. Lebih dari sekali, bahkan. Dan tolong jangan salahkan mereka yang sebelum kamu — akulah yang terlalu bodoh karena menganggap semuanya terlalu serius dan akhirnya, hal itu mematahkan hatiku.

Harus aku akui, cerita-cerita patah hatiku menyisakan banyak sekali luka, rasa tidak percaya dan kekhawatiran tanpa akhir. Namun, tepat saat aku ingin berhenti dengan cinta dan semua omong kosongnya, kamu hadir.

Aku tidak mengerti bagaimana semesta mengatur sedemikian rupa sampai akhirnya kita bertemu. Aku ingat melihatmu tertawa dan dengan asiknya bergurau bersama temanmu. Namun ketika melihatku, tatapanmu benar-benar datar sampai-sampai membuatku bertanya dalam hati, kenapa sih, orang ini? Aku bersumpah, semua orang — termasuk aku saat itu tidak akan pernah mengira bahwa kamu akan mengambil peran sepenting ini dalam hidupku.

Kemudian, entah bagaimana, kita menjadi dekat. Sapaanmu menjadi yang aku tunggu setiap pagi saat aku bangun tidur dan menjadi penutup hari yang aku inginkan untuk ada setiap malam.

Kamu jadi sosok yang penting. Sangat penting. Aku pernah sengaja pura-pura terlelap, agar esok pagi bisa menyapa lagi tanpa rasa canggung yang mengisi. Aku juga memperhatikan setiap detail dari kamu yang menjadi kesukaanku di setiap pertemuan kita. Senyumanmu yang kaku, namun selalu lebar dan tulus. Kerutan di ujung matamu, karena tawa geli yang kamu lepaskan. Tatapanmu yang fokus dan terasa hangat saat memandangku dan menyimak celotehanku yang tidak ada habisnya. Celetukanmu yang selalu menyebalkan tapi menyenangkan. Cueknya kamu akan segala hal.

Hal berikutnya yang aku tahu, aku sudah jatuh cinta. Jatuh cinta pada laki-laki yang cuek, tidak perhatian, tidak romantis, keras kepala, iseng, suka meledek, menyebalkan, pokoknya jauh dari ekspektasiku sama sekali. Anehnya, semua hal-hal menjengkelkan dari kamu itulah yang membuatku jatuh cinta sedalam ini. Hatiku benar-benar tertambat di kamu, dan rasanya aku tidak ingin pergi sama sekali. Sama sekali.

Aku benar-benar ingin berhenti mencari dan yang kuinginkan hanya kamu. Sungguh. Jadi, jangan pergi, ya? Masih banyak bab yang ingin aku tulis dengan nama kamu di dalamnya. Tetap gandeng tanganku, peluk pinggangku, rangkul bahuku seperti saat dulu kamu mencari-cari alasan untuk sekadar bersentuhan denganku.

Aku ingin membacakan cerita ini suatu hari nanti, dan aku harap, ketika saat itu tiba, kamu masih ada di sampingku, sehingga cerita ini bukan menjadi cerita tentang patah hati, tapi menjadi kisah dengan akhir yang manis. Cerita tentang dua manusia yang saling menemukan, berproses, menjadi dewasa dan selalu memilih satu sama lain hingga akhirnya menemukan kebahagiaan mereka bersama.

I write to keep myself sane. Instagram: @alpinut

I write to keep myself sane. Instagram: @alpinut