Katanya, dia hanya ingin cinta yang sederhana.
Yang tidak banyak bicara,
Namun dapat dirasa kehadirannya.

Katanya, dia hanya ingin cinta yang tidak banyak repotnya.
Tidak butuh drama,
Karena Jakarta sudah cukup melelahkan untuknya.

Katanya, dia hanya ingin cinta yang apa adanya.
Cinta yang tidak tergesa;
Berjalan perlahan menuju bahagia yang ia damba.

Lucunya,
Dia yang paling khawatir saat aku ingin pergi sendiri.
Katanya,
“Aku tidak mau kamu kenapa-kenapa. Yuk, sama aku saja!”

Lucunya,
Dia yang paling banyak marahnya saat aku keras kepala.
Katanya,
“Sayang aku, kan? Kenapa sih, keras kepala?”

Lucunya,
Dia yang paling banyak merayu saat aku sedang sendu.
Katanya,
“Ayo dong, cantik, senyum yuk? Lihat nih, aku sayang kamu!”

Lucunya,
Dia yang paling ingin dilibatkan saat tahu aku kesulitan.
Katanya,
“Kenapa tidak meminta bantuan? Kan, aku ada?”

Lucunya,
Dia yang paling kerepotan mengurus penampilannya.
Katanya,
“Kan mau ketemu sayangnya aku, jadi aku harus kelihatan tampan!”

Faktanya,
Inilah bentuk cinta yang sederhana.
Cerita yang kamu baca tentang dia,
Kata-kata yang ku rangkai sebegitunya tentang dia.

Faktanya,

Cinta yang dia bilang sederhana adalah cinta yang paling rumit;
Cinta yang dia punya adalah yang paling merepotkan dirinya.

Cinta yang selalu berusaha untuk ada,

Cinta yang selalu membuatku bahagia.

Tentu saja,
Yang kulakukan untuknya kurang lebih sama.
Selalu ada, selalu ingin dilibatkan, selalu ingin menjadi bagian hidupnya.
Hanya saja,
Aku terkesima dengan caranya memandang rasa.

Baginya, itu semua sederhana dan apa adanya.

Bagiku, itu semua bentuk rasa paling rumit yang pernah ada,
Dan dia tidak menyadarinya.

:)

I write to keep myself sane. Instagram: @alpinut

I write to keep myself sane. Instagram: @alpinut