Apalah arti sebuah momen jika kita tidak benar-benar ingin mengingatnya nanti? Aku terus saja bertanya-tanya, seberapa pentingnya kenangan tentang hari ini jika 10 tahun lagi aku malah ingin berusaha melupakannya?
Melupakan tentang segala kepahitan hati, perasaan ingin marah yang terus saja meluap, dan adanya keinginan untuk pergi.

Akankah hal itu membuatku jadi pribadi yang pembenci dan segalanya menjadi kesalahanku? Atau haruskah aku menepis pikiran tersebut jauh-jauh, meyakinkan diri bahwa aku sudah mencoba untuk menjadi versi terbaik dari diriku yang aku bisa, karena aku tahu seberapa keras hari ini aku mencoba untuk memaafkan dan melepaskan?

Aku selalu benci kenangan buruk, tapi kenapa kenangan buruk selalu datang, menghampiri dan terus saja teresonansi berulangkali? Sedangkan cerita dan momen-momen membahagiakan nan manis dengan mudahnya menguap begitu saja, seolah menjadi tabungan langit, yang mungkin sudah terbawa angin, tersimpan entah di mana.

Yang ingin ku ingat adalah semua hal baik. Bagaimana wangi buku tua yang ku baca pagi ini menguar dari setiap lembarnya. Bagaimana kubiarkan cahaya matahari menyapa kulitku, yang menyahut dengan rona merah di permukaannya; malu-malu. Bagaimana suara kekasihku menyapa dari sisi lain Jakarta lewat sambungan telepon, membuatku tersenyum di pagi hari karena tawanya yang renyah luar biasa.

Akankah hari ini, 10 tahun lagi, ku ingat semua itu?

Atau, yang ku ingat hanya bagaimana sakit hatiku yang tersisa dari malam-malam sebelum hari ini — ratusan malam yang terasa begitu panjang, yang menenggelamkanku dalam pikiran, masalah dan lukaku sendiri? Luka yang telah begitu lama kupendam, kututupi, sampai-sampai aku pun tidak tahu cara menyembuhkannya lagi?

I write to keep myself sane. Instagram: @alpinut

I write to keep myself sane. Instagram: @alpinut