Pergi

“Aku melangkah pasti dengan hati yang hancur. Ku kumpulkan kepingannya, dan aku pergi.”

Bertahun-tahun yang lalu, aku duduk di kelas, sendirian, meratapi kesedihanku tentang hal yang sama seperti yang aku rasakan hari ini.

Pergi. Lucu. Apa sih, pergi itu?

Kenyataannya, aku gak pernah pergi.

Aku berusaha meninggalkan segalanya di belakangku, berharap aku sudah berjalan lurus dan meninggalkan segalanya — jauh dan gak tersentuh. Namun ternyata, aku hanya berjalan memutar, menghindari ego dan semua ketakutanku.

Sekarang aku berdiri lagi, tepat di atas luka yang sama, pecahan-pecahan yang sama, dan aku hanya bisa tersenyum sinis membaca ulang tulisanku itu sambil meringis.

“Melangkah pasti”.

Pasti? Ke mana? Semakin ke sini, ketakutanku semakin nyata. Aku tetap berdarah, tetap terluka, tapi aku harus berusaha terlihat baik-baik saja.

Itu kan, yang semua orang mau? Keharusan untuk terlihat baik-baik saja, meskipun sudah tidak ada pagi tenaga yang tersisa untuk bernapas dan bilang “iya, gapapa”?

Aku terlalu marah.

Kemudian marahku ini aku larikan kedalam tulisan menyedihkan yang mungkin tidak kamu mengerti dan selamanya tidak akan kamu pahami.

Aku ingin hilang.

Aku ingin pergi. Ingin pergi.

I write to keep myself sane. Instagram: @alpinut

I write to keep myself sane. Instagram: @alpinut