absennya hadirmu di sini membuat malam terasa lebih dingin dari biasanya. jadi ku kunci pintu kamar rapat-rapat, kemudian aku bersembunyi di bawah selimut biru kesayanganku.

sambil berusaha menghangatkan diri sembari memeluk boneka kucing yang paling kamu benci (karena ekspresi kucingnya jelek ya, katamu?), aku terkekeh sendiri menatap ekspresi jenakamu yang tertangkap kamera ponselku kemarin dulu.

begini ya, rasanya merindu sosok yang jauh? ingin meminta kamu datang ke sini, namun rasanya, aku egois sekali kalau aku sampai memintamu kemari. akhirnya aku memilih untuk melarikan kerinduanku kedalam tulisan singkat tentang kamu yang mungkin tak akan pernah kamu baca ini.

aku rindu. rindu aroma tubuhmu, rindu pelukanmu, rindu sentuhanmu. mungkin karena malam ini langit sedang sendu, membisikkan cerita pilu tentang rindu yang menusuk hati, makanya aku jadi begini.

ingatanku pergi ke waktu itu, malam di mana aku yang kelelahan setelah berkegiatan seharian, memutuskan menghampirimu untuk sekadar melepas penat dan menyandarkan kepalaku ke bahumu, menyesap aroma tubuhmu dalam-dalam sambil memejamkan mata. aku ingat benar, dinginnya malam itu membuat tanganmu terasa lebih hangat dari biasanya. kamu membelai pipiku dan bilang, “yuk aku antar pulang sekarang? biar kamu bisa tidur di rumah.” aku menggeleng cepat-cepat.

“ih apa sih, nggak mau. masih mau di sini. lagian, masih jam 7. macet tau,” kataku sembari mengubah posisi, berbaring malas beralas bantal kepala di pahamu. kamu tertawa melihat wajahku yang merajuk karena berkali-kali kamu memaksaku untuk pulang agar aku bisa beristirahat.

“yaudah, yaudah. tidur ya sekarang. nanti jam 8 aku bangunin, aku antar kamu pulang. oke?” akhirnya kamu mengalah dan aku tersenyum.

aku tertidur pulas selama satu jam di pangkuanmu. tanganmu tak hentinya mengelus rambutku. sesekali, kamu menghangatkanku yang kedinginan setengah mati dengan menggenggam tanganku (kamu tahu, kan, bagaimana dinginnya telapak tanganku ketika aku kelelahan?). aku tidak ingat apakah itu mimpi atau bukan, yang jelas aku mendengar suara tawamu. tawa kecil, seperti terkekeh. lalu kamu berbisik, “ya ampun, lucu”.

tidurku terasa begitu sebentar ketika kamu menggerakkan tanganku dan bilang, “ayo bangun sayang, udah jam 8. yuk pulang.” aku mengulet malas dan mengiyakan. sepanjang perjalanan pulang, kamu diam saja dan akupun terlelap lagi sambil memeluk dan menghirup aroma tubuhmu yang terbawa angin malam itu. sesampainya di depan rumah, kamu memintaku untuk masuk dan langsung tidur.

kamu mengecup dahiku dan menepuk pipiku. “tidur ya, sayang. gak usah tunggu aku. kamu istirahat, oke?” aku mengiyakan sambil malu-malu.

aduh, apa sih? pikirku. kayak baru pacaran aja pakai malu-malu segala.

begitu masuk ke kamar, aku malah tidak bisa tidur. tiba-tiba sudah rindu sentuhanmu yang hangat, tiba-tiba sudah rindu aroma tubuhmu lagi. akhirnya aku kepayahan. rasanya begitu hangat saat bersamamu, dan begitu kamu kembali pulang, dinginnya malam kembali menusuk lagi.

sama seperti hari ini. berhari-hari tidak bertemu kamu, tidak melihat wajahmu. jemariku merasakan betul absennya sentuhanmu, dahiku merindu hangatnya kecup sayangmu. tubuhku bergidik, seolah memberitahu bahwa dia ingin dipeluk olehmu.

lucu memang, jarak yang tidak seberapa ini bisa membuatku nelangsa karena rindu. aku benci absennya kamu, aku benci absennya hangatmu.

tolong ingatkan aku, ketika nanti kita bertemu, aku ingin mendekapmu selama yang aku bisa; menyimpan hangatmu untukku sendiri sampai nanti kita berjumpa lagi. boleh, kan?

I write to keep myself sane. Instagram: @alpinut

I write to keep myself sane. Instagram: @alpinut