Kenapa sih? Apalagi yang kamu cari? Apakah kamu terlalu takut untuk melepaskan? Kamu sudah berkali-kali kecewa karena hal yang sama… Apa yang kamu harapkan?

Kenapa sih? Kenapa kamu masih saja bertahan dengan segala sakit hati dan kekecewaan yang terus menerus kamu timbun dan pendam seorang diri, membiarkan rasa tidak percayamu berkembang terus, semakin besar dan semakin kuat setiap harinya, menjadi jangkar yang menahanmu mengarungi laut lebih jauh lagi?

Kenapa sih? Saat membaca ini pun, kamu pasti masih memilih untuk bertahan dan membiarkan hatimu kecewa, sekali lagi, setelah berkali-kali mendengar kata maaf dan janji bahwa dia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama, lagi.

Ah, maafkan aku dan keegoisanku yang menilai hubunganmu seenakku. Aku hanya ingin bilang, sedikit banyak, aku mengerti.

Saat ini, mungkin kamu masih berharap bahwa suatu saat, maaf dan janji itu akan terealisasi dan bukan lagi sekadar omong kosong yang bobotnya tak lebih ringan dari udara. Yah, apapun itu, aku berharap yang terbaik untukmu. Aku bukan siapa-siapa yang bisa memaksa, kan?

Jika saat ini kamu sedang kecewa dan hanya bisa menatap langit tanpa arti, dengan perasaan datar, air mata yang terus mengalir dan hati yang hancur, maka lakukan. Jika kamu ingin pergi karena sudah tidak sanggup lagi bertahan, silakan. Jika kamu ingin bertahan karena masih berharap, akan kubiarkan.

Suatu saat nanti — aku tidak tahu pastinya; mungkin besok, mungkin seminggu lagi, atau mungkin bertahun-tahun setelah kamu membaca ini, kamu akan sampai pada keputusanmu sendiri. Kamu akan harus memilih, tinggal, atau angkat kaki. Pilihannya selalu ada di kamu. Sejak awal, selalu ada di kamu.

I write to keep myself sane. Instagram: @alpinut

I write to keep myself sane. Instagram: @alpinut