Saya mengigaukan rindu dan memimpikan banyak sekali pertemuan. Menuliskannya dalam kalimat-kalimat panjang ketika saya terbangun; saya benar-benar ingin pertemuan itu menjadi nyata dan tergapai.

Sudah dua bulan sejak terakhir kali saya melihat kamu. Menyentuh kamu. Saya sampai harus meyakinkan diri, bahwa kamu memang nyata dan masih nyata — ada dalam hidup saya, masih dengan perasaan yang sama untuk saya.

Kita dipaksa menyesuaikan diri dengan cepat dan tiba-tiba; tanpa aba-aba dan begitu saja. Pertemuan singkat untuk bertukar cerita setiap akhir minggu yang biasanya kita lakukan, kemudian harus ditunda dan digantikan dengan pertemuan virtual yang kita lakukan hampir setiap malam. Bertukar canda dan tawa sambil melihat ekspresi jenakamu juga harus digantikan dengan gurauan receh spontan via telepon genggam, dengan saya yang memejamkan mata sambil tersenyum — berusaha membayangkan dan mengingat dengan jelas bagaimana guratan khas wajahmu yang terukir ketika kamu tertawa dan tersenyum.

Semua tentang kamu masih terekam jelas dan lugas. Kebiasaan-kebiasaanmu sudah menjadi sesuatu yang saya hafal di luar kepala.

Cara kamu berbicara. Cara kamu tersenyum. Cara kamu tertawa. Cara kamu mengernyitkan dahi. Cara kamu memandang saya ketika saya melakukan hal bodoh dan saya sudah tahu ujungnya — kamu akan meledek saya kemudian mengelus kepala saya. Semuanya masih terekam jelas, begitu manis dan sungguh membuat saya tersenyum sendiri.

Ada pula saat-saat di mana saya benar-benar tidak tahan karena saya merindukan pelukanmu. Kecupan sayangmu. Genggaman jemarimu. Seringkali, memikirkan hal-hal manis tentangmu malah membuat saya menangis. Saya benar-benar ingin bertemu kamu — menjatuhkan diri ke pelukanmu, dengan kamu yang akan membiarkan saya menangis sepuasnya di sana sambil membiarkan saya menghirup wangi tubuhmu yang selalu saya sukai. Seperti biasanya.

Terlepas dari hal-hal yang saya rindukan itu, saya bersyukur masih memiliki kita yang selalu mengusahakan dan meluangkan waktu untuk satu sama lain, walaupun situasi sedang memaksa kita untuk saling berjauhan sebagai bentuk sayang yang harus kita terima dan jalani entah sampai kapan. Saya tidak bisa bohong, saya nelangsa. Tersiksa, karena begitu banyak rencana yang lagi-lagi terpaksa harus kita tunda karena keadaan yang sedang tidak berpihak pada siapapun.

Saya bersyukur kamu adalah lelaki penyabar yang sejak dulu selalu saya kagumi. Kamu selalu mengingatkan saya setiap kali saya menangis sesenggukan belakangan ini sambil mengeluhkan rindu dan keinginan untuk bertemu, “tunggu, ya, sebentar lagi ketemu”, walaupun kita sama-sama tahu bahwa situasi ini tidak bisa diprediksi.

“Iya, sebentar lagi, ya”, jawaban saya hanya itu.

Saya tunggu. Saya harap ketika nanti kita bertemu, kamu paham sebagaimana meledak-ledaknya perasaan yang saya simpan sendiri selama ini. Sampai hari itu tiba, tolong jangan bosan mendengarkan igauan rindu saya dan rencana-rencana mengenai pertemuan kita nanti, ya?

I write to keep myself sane. Instagram: @alpinut

I write to keep myself sane. Instagram: @alpinut