Terlalu Banyak Ruang

Hening. Hampa.

Desis kesendirian dan bisikan-bisikan pilu mengenai kesepian menggema dari ujung ruangan yang satu ke ruang yang lain; membungkus kesedihan dan kerinduan dengan sempurna di dalamnya.

Sesak. Kosong.

Ruang-ruang kosong ini terasa begitu menyesakkan karena di dalamnya terdapat begitu banyak kenangan yang tercecer dan berantakan, karena kepergiannya yang tiba-tiba. Kaku dan terburu-buru, meninggalkan jejak di mana-mana. Menyenggol yang tadinya kokoh, merusak yang tadinya baik-baik saja.

Dingin.

Pilu menusuk lewat telapak kaki dan sakitnya bahkan sampai ke jantung. Dingin terus saja merisak dan menyiksa, menyusup masuk lewat pori-pori dan tinggal di sana; membiru. Jemari tangan yang tadinya hanya mengerti kehangatan dan terbiasa untuk membelai pipinya, sekarang membeku dan tidak mampu lagi untuk bergerak. Hanya diam, diam.

Berantakan.

Apalagi yang diharapkan? Tentu saja kepergian itu menciptakan kekacauan luar biasa yang menyebabkan segalanya terlihat pecah belah dan melukai kemanapun kaki melangkah.

Harus bagaimana?

--

--

I write to keep myself sane. Instagram: @alpinut

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store
Alvina Maria

Alvina Maria

I write to keep myself sane. Instagram: @alpinut