Waktu

Jika waktu adalah individu

Aku sering berpikir: jika waktu adalah individu, mungkin dia akan jadi satu-satunya individu yang aku benci dengan keyakinan penuh.

Tapi sayangnya, dia kasat mata, dan hal itu semakin membuat apa yang kulakukan sekarang tidak masuk akal dan terdengar konyol. Membencinya.

“Kenapa kamu membenci waktu?”

Karena dia hanya hadir sekedarnya dan seadanya. Sengaja membuat segalanya terasa begitu cepat, tidak memberikan ruang untuk beradaptasi. Dia terus saja berjalan tanpa peduli apa yang terjadi, sungguh cuek dan tidak berempati. Benci.

Karena dia membuat segalanya kacau. Meninggalkan penyesalan “kalau saja waktu itu…” di pikiran semua orang (atau hanya aku saja?), tapi tetap saja dia melaju tanpa jeda sedikitpun.

Karena dia sombong. Waktu punya kekuatan untuk terus saja berjalan dengan angkuhnya sementara semua orang tertatih-tatih mengejarnya. Semua orang berlomba-lomba untuk saling kejar dengan waktu, lalu kemudian saat mereka menoleh kebelakang — waktu sudah membuat semua orang berlari meninggalkan hampir segala hal yang dulu mereka perjuangkan. Mempertaruhkan hampir segalanya yang mereka miliki.

Karena, waktu membuatku kehilangan.

Aku tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya, tapi waktu membuatku kehilangan. Aku membenci waktu karena dialah yang seharusnya dipersalahkan atas hilangnya ruang yang seharusnya bisa diisi dengan kehangatan dan orang-orang terdekat.

Iya, kan?

I write to keep myself sane. Instagram: @alpinut

I write to keep myself sane. Instagram: @alpinut